Memilih Platform untuk Kolaborasi Tim

Source: Photo by Dylan Gillis on Unsplash

Tidak begitu ingat kapan awalnya kita memilih aplikasi tersendiri komunikasi dan mengatur proyek. Mungkin sekitar tahun 2015–2016. WhatsApp menjadi salah satu pilihan kami untuk kolaborasi tim. Awalnya semua sangat nyaman karena memang semua member memiliki aplikasi ini dan kita semua sudah terbiasa menggunakannya. Kita tidak begitu membutuhkan platform untuk diskusi dan kelola tim secara online jadi WhatsApp kala itu sudah lebih dari cukup. Terlebih lagi masa sebelum pandemi kami berlakukan 6 hari kerja di kantor. Sehingga koordinasi lebih banyak dilakukan secara offline. Tapi kita keliru dan itu bertahan sekitar satu tahunan.

Kami baru menyadari kalau WhatsApp adalah aplikasi yang bersifat general purpose for messaging. Sangat tidak tepat karena pembicaraan penting menjadi tergulung ke atas ketika kita sambi dengan diskusi lainnya. Pada saat itu WhatsApp tidak memiliki pinned message, semua diskusi bercampur. Ya kita bisa saja membuat satu grup baru yang khusus tapi itu tidak terpikirkan dan tentu saja merepotkan. Maka langkah selanjutnya tahun 2017 Telegram menjadi salah satu tempat berlabuh untuk kolaborasi.

Salah satu alasan utama kita masih memilih aplikasi yang setengah general purpose dan setengah lagi untuk mengelola tim adalah karena kita tidak ingin terlalu banyak menggunakan aplikasi yang berbeda-beda. Telegram sementara masih bisa menjadi satu tempat itu semua. Namun seiring dengan bertambahnya project dan beberapa sub diskusi yang perlu ditambah maka hal ini sudah sangat tidak memungkinkan sekalipun di telegram kita bisa buat semacam category. Namun tetap sudah sangat tidak ideal lagi.

Source: Photo by Adem AY on Unsplash

Akhirnya kita perlu mencari beberapa solusi lain yang memang bisa mengakomodir semua kebutuhan kolaborasi tim dan tetap bisa dengan mudah dan memilah dan mengelola tim. Diantara beberapa pilihan yang sempat muncul adalah Rocket.Chat, Slack, Discord, dan MatterMost. Jujur saja memilih diantara itu semua membutuhkan komparasi yang cukup lama. Kita butuh yang tidak perlu lagi memikirkan infrastruktur yang ada.

Sebenarnya diskusi pemilihan aplikasi ini cukup intens di kalangan founder. Ada yang tertarik dengan Rocket.Chat karena “secure”. Sebenarnya untuk masalah keamanan keempat aplikasi di atas juga terbilang aman. Mungkin kalau masalah privacy berbeda-beda. Harus mengecek satu per satu bagian untuk masalah privacy juga akan banyak menghabiskan waktu lagi sementara kebutuhan untuk mengelola tim dan diskusi lebih lanjut terus berjalan dengan menggunakan Telegram. Diskusi semakin susah untuk dikelola.

Kalau saya pribadi sebenarnya cenderung memilih diantara dua Slack atau Discord. Slack karena di lab sudah terbiasa menggunakannya (dan dibayari hehe). Sementara kalau yang free maksimal yang bisa kita baca hanya 10.000 history chat kalau tidak salah ingat pada waktu itu. Kemudian saya tertarik dengan Discord. Slack-like but tidak ada pembatasan dari sisi history chat. Ini sangat dibutuhkan disamping kita bisa pinned message sebanyak yang kita inginkan. Terlebih lagi kita bisa memanfaatkan webhook yang bisa integrasi dengan gitlab dan github. Ini penting sekali dan sama sekali tidak ada fasilitas ini di Telegram. Mungkin bisa kalau buat bot sendiri tapi harus mikir bot dan lainnya.

Source: Photo by Alexander Shatov on Unsplash

Pilihan akhirnya jatuh ke Discord. Tambahan utama kenapa Discord jadi pilihan juga karena sempat melihat beberapa kawan dosen di salah satu institusi perguruan tinggi menggunakannya untuk mengelola mahasiswanya ketika mengajar. Ketika itu lagi awal-awal pandemi dan orang banyak yang mencari-cari platform apa yang hemat bandwidth tapi bisa digunakan panjang dan fleksibel. Maka menurut informasi kawan saya yang dosen itu pilihan jatuh ke Discord.

Pengalaman lainnya juga beberapa kawan-kawan pekerja remote banyak yang menggunakan Discord dan Slack. Ternyata ini sangat memudahkan mereka untuk mengelola tim mereka dan kolaborasi dengan yang lainnya. Disamping kita tidak perlu direpotkan dengan memikirkan infrastruktur yang digunakan. Kita tidak perlu memikirkan dimana server harus dipasang, dan bagaimana merawatnya. Semua ini terwakili di Discord.

Alhamdulillah sementara Discord masih kita pertahankan untuk digunakan. Salah satu kekurangannya adalah masalah upload file yang dibatasi. Dalam hal upload file, maka Telegram masih jadi pemenangnya. Saya masih ingat bisa upload dan download file dengan besaran ratusan mega.

Kekurangan ini sebenarnya masih bisa diatasi. Ada alternatif yang bisa digunakan yakni dengan membayar atau kita bisa juga taruh saja file-file penting di cloud atau gdrive kemudian kita tinggal bagi tautannya saja. Ini semua murni masalah kebutuhan internal dan pengalaman pribadi.

Apakah saya harus pindah ke Discord?. Nggak harus juga. Sekali lagi ini semua disesuaikan dengan kebutuhan. Kalau diskusi kita simpel dan terbatas dan tidak perlu dipilih dan dipilah-pilah maka tidak perlu repot-repot juga pindah ke platform lain. Bisa jadi orang lain lebih suka menggunakan selain Discord.

Bagi yang memiliki pengalaman lain bisa dibagi di kolom komentar.

Network Security Enthusiasts, Founder of ATSOFT Teknologi

Network Security Enthusiasts, Founder of ATSOFT Teknologi